Sabtu, 15 Oktober 2011

Tari Barong Rampog Khas Blitar Tembus Tarian Dunia


TARI DUNIA: Penampilan tari Barong Rampog saat ikut meramaikan dalam Purnama Seruling Penataran


Terinspirasi Tradisi Upacara Penyiksaan Harimau

Tarian khas Blitar, Tari Barong Rampog mampu menembus ketatnya kompetisi tingkat dunia. Tari ini mampu berbicara di Cheonan World Dance Festival 2011, Korea Selatan. Sosok kreatif di balik tarian khas Blitar itu adalah Kholam Siharta. Apa yang menginspirasinya? Berikut laporannya.

Yanu Aribowo, Blitar

Terpilih sebagai juara di ajang Cheonan World Dance Festival 2011 tak pernah dilupakan Kholam Siharta.  Bagi pemuda 27 tahun asal Kelurahan Beru, Kecamatan Wlingi, prestasi yang diperoleh bersama rekan seniman lainnya merupakan pengalaman berharga. Prestasi tersebut menjadi pembakar semangat bagi Kholam untuk terus berkarya.

Prestasi tingkat internasional itu sendiri sangat tidak diduga-duga. Apalagi dalam even tahunan di Kota Cheonan, baru kali pertama tampil. Dia mengaku, sengaja menciptakan tari Barong Rampog dikarenakan adanya Cheonan World Dance Festival 2011. Dalam waktu dua minggu, dia memutar otak untuk menciptakan jenis tarian yang bisa dibawa untuk mewakili Indonesia di tingkat internasional. Hingga akhirnya berhasil meraih juara keempat, bersama anggota kontingen Indonesia lainnya yang berasal dari Ponorogo dan Jakarta.

Kepada Radar Blitar, Kholam sendiri mengaku tarian hasil karyanya itu terinspirasi oleh tarian barong jaranan yang banyak dimainkan masyarakat Blitar. Selain itu juga tradisi Rampokan Macan yang pernah ada di wilayah Blitar pada abad 19 silam. Dan, upacara pembunuhan terhadap seekor macan biasanya dilaksanakan di Alun-alun itu. Tradisi itu akhirnya dilarang oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1905 silam. Nah, dari dua alur budaya itulah Kholam akhirnya terinspirasi untuk menggambarkan bagaimana perasaan sang macan, saat disiksa oleh manusia-manusia yang menghunuskan tombak ke arah tubuhnya hingga tewas tergeletak. “Akhirnya terciptalah Barong Rampog itu,” ujar Kholam.

Melalui tarian itu, Kholam berusaha menyampaikan pesan perjalanan hidup semua makhluk, baik manusia, hewan, dan tumbuhan, yang digambarkan melalui sosok macan. Yakni penggambaran mulai kelahiran, pertumbuhan mengenal lingkungan sekitar, godaan yang berupa para perempuan yang memaksa macan untuk membuat pilihan. Jika ia menyerahkan, tentu akan menjadi keburukan. Dan jika mampu bertahan tentu akan berbuah kebaikan. Maka dari itu, para proses ujian godaan itu merupakan penentuan masa depan makhluk itu kelak akan menjadi apa. Dalam tarian itu digambarkan apapun pilihan sang macan, kelak akan menjadi sesuatu yang besar, yang digambarkan melalui dadak merak, kesenian asal Ponorogo. “Jadi tergantung pilihan yang diambil pada fase godaan tadi. Sesuatu yang besar (dadak merak, Red) bisa dimaknai keburukan atau kebaikan. Tergantung manusia yang menjalaninya,” ucap penggemar vespa ini.

Lanjutnya, barong dalam hasilnya karyanya juga tidak lazim. Jika pada umumnya menggunakan kulit kambing yang sudah dikeringkan untuk menghiasi leher barong, dalam Barong Rampog, para barong itu mempunyai hiasan leher yang berupa puluhan batang lidi. Bentuk itu merupakan penggambaran dari tombak dari matador Jawa yang menghunus ke tubuh macan yang menjadi objek dalam tradisi Rampokan Macan. Meski tradisi itu menginspirasi karya, tidak lantas membuat Kholam setuju jika tradisi lama itu dihidupkan kembali. Alasannya, tak lain adalah populasi macan sendiri yang merupakan hewan yang dilindungi untuk menghindari kepunahan.

Dia sendiri, lebih memilih Rampokan Macan dihidupkan kembali dalam bentuk yang dimodifikasi, salah satunya melalui tarian. Nah, dari karya itu juga diambil makna bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada hikmahnya. Dari bencana dan musibah yang melanda bangsa Indonesia belakangan ini, masyarakat bisa mengambil hikmah dan manfaatnya. Dia mengambil contoh, penebangan hutan secara liar bisa menyebabkan banjir karena daya serap hutan menjadi berkurang. “Nah, musibah itu sudah memberikan pelajaran bagi manusia agar bisa hidup berdampingan dengan alam,” tukas pria berkuncir panjang ini.

(sumber: Radar Blitar)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar