Senin, 31 Oktober 2011

Sumpah Pemuda, Lomba Layangan



 BLITAR – Hari Sumpah Pemuda (28/10) lalu diperingati masyarakat dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan karang taruna Kelurahan Bence, Kecamatan Garum. Sejak Sabtu (29/10), para pemuda di kelurahan ini menggelar lomba layang-layang.

Jumat, 28 Oktober 2011

Kuda Lumping

Pagelaran seni kuda lumping di kawasan PIPP Kota Blitar
oleh Turonggo Yudho Putro dari Sentul, Kepanjenkidul.

Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.

Rabu, 26 Oktober 2011

Kesamben di Siang Hari


Melihat suasana pegunungan selatan Kabupaten Blitar dari halaman depan SMAN 1 Kesamben, Rabu (26/10) sekitar pukul 10.30. Musim kemarau berkepanjangan ini, hamparan hijau pohon-pohon yang tumbuh di pegunungan selatan itu belum tampak. Pohon jati yang menjadi mayoritas tanaman di hutan produksi saat ini masih meranggas, sehingga yang tampak adalah pegunungan kecoklat-coklat. Beruntung, beberapa hari ini di wilayah Blitar Raya sudah diguyur hujan lebat. Akhirnya sekitar pukul 13.00, hujan lebat kembali mengguyur wilayah Blitar Raya. Semoga saudara kita yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih segera normal kembali, sehingga tidak perlu lagi mengantri desak-desakan untuk mendapatkan air bersih. (yanu aribowo)

Senin, 24 Oktober 2011

Tari Dayak ala Salamrejo




BLITAR – Memperingati hari jadi ke-139, Desa Salamrejo, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, menggelar pawai seni Tari Dayak. Yakni, seni tari asli dari desa itu sendiri. Keunikan dari tarian ini, peserta mengenakan pakaian nyleneh, seperti raksasa.

Tahun ini merupakan pagelaran seni tari Dayak yang keempat kalinya. Menurut Kepala Desa S. Samidjianto, seni tari ini merupakan peninggalan nenek moyang desa, dimana dulu yang membuka lahan desa dari hutan belantara sekitar tahun 1872. Nah, nenek moyang yang mulai menetap di wilayah yang saat ini diberi nama Salamrejo itu, mereka memiliki kesenian tari tersebut. “Sebagai generasi penerus, sudah selayaknya kami menghidupkan kesenian dari nenek moyang,” jelas Kades Salamrejo, S. Samidjianto.

Lanjut pria 52 tahun ini, setelah lama hampir menghilang, empat tahun terakhir pihak desa dengan dukungan penuh masyarakat, menghidupkan kembali kesenian nenek moyang itu. Dalam tarian itu, ratusan peserta dengan kostum yang nyleneh seperti raksasa dengan berbagai model, berupa rumbai-rumbai, membawa pedang, pentungan, berambut gimbal, dan rata-rata tubuh peserta dipoles warna hitam yang menambah seram penampilan mereka. Di antara ratusan para peserta itu, ada beberapa yang mengenakan kostum raja lengkap dengan mahkotanya.

Diceritakan kepala desa, seni tari Dayak ini memang menggambarkan kisah sang raja yang melintasi ratusan prajuritnya. Pada masa lalu, jika sang raja melintas di depan prajurit, mereka harus memberikan hormat dengan cara sujud memberi hormat. Jika tidak, tentu para prajurit itu akan mendapatkan amarah dari sang raja. Gambaran itu juga terlihat kemarin, saat peserta pawai hari jadi itu berhenti di salah satu lapangan di Desa Salamrejo. Sang raja yang marah memberikan hukuman kepada prajuritnya (peserta lain,Red) yang tetap berdiri dan bersorak, ketika sang raja melintas. Peserta yang memerankan raja langsung mengayunkan petungan yang dipanggulnya ke arah prajurit hingga para prajurit itu berjongkok memberi hormat.

Dalam pawai yang menelusuri jalan Desa Salamrejo dan Desa Sumberkembar (23/10), itu juga diikuti oleh rombongan tari Madura, potensi desa setempat, dan anak-anak sekolah. Dalam pawai itu melibatkan sekitar 1000 peserta. (ynu/ris)

sumber : Radar Blitar