Tampilkan postingan dengan label tak kabari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tak kabari. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2011

Bangun Patung BK 185 Meter


PERSADA BK: Permadi bersama tim 10 berpose di belakang gambar yang rencana untuk pembangunan Persada Bung Karno.

BLITAR – Patung Bung Karno bakal berdiri di Kademangan. Himpunan pecinta Bung Karno di Blitar telah menggagas pendirian Persada Bung Karno yang diperkirakan sangat monumental. Sebab, monument tersebut dibangun di atas lahan seluas 110 hektare. Kemarin, para pecinta yang tergabung dalam tim 10 menggelar pertemuan di salah satu rumah di Jalan Lawu, No 68, Kota Blitar. Pertemuan itu dihadiri mantan anggota DPR RI Permadi SH. 

Senin, 07 November 2011

Melihat Kelompok Arisan Hewan Kurban di Masjid Ussisa Littaqwa, Kota Blitar




Setahun Bayar Rp 350 Ribu, Satu Sapi Dibagi Tujuh Orang

Banyak cara dilakukan umat Islam agar bisa berkurban, terutama bagi yang belum mampu sendiri. Salah satunya dengan mengadakan arisan. Seperti dilakukan Kelompok 28 (K-28), kelompok arisan hewan kurban di Masjid Ussisa Littaqwa, Kota Blitar. 

Yanu Aribowo, Blitar

Kemarin pagi, usai menjalankan salat Id, panitia penyembelihan hewan kurban di Masjib Ussisa Littaqwa, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, langsung sibuk dengan tugas masing-masing. Sekitar 80 orang dengan seragam kaus biru, langsung bersiap melakukan prosesi penyembelihan hewan kurban di kawasan masjid yang masih dalam tahap renovasi itu. Tak tanggung-tanggung, Idul Adha 1432 Hijriah kali ini, di masjid itu menyembelih sebanyak 10 ekor sapi, satu ekor kerbau, serta delapan ekor kambing.

Senin, 31 Oktober 2011

Sumpah Pemuda, Lomba Layangan



 BLITAR – Hari Sumpah Pemuda (28/10) lalu diperingati masyarakat dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan karang taruna Kelurahan Bence, Kecamatan Garum. Sejak Sabtu (29/10), para pemuda di kelurahan ini menggelar lomba layang-layang.

Jumat, 21 Oktober 2011

Akhirnya Mbah Sadar Juga

sebelum sadar


sesudah sadar

Hahahaha,.,.akhirnya setelah beberapa hari menjadi bahan perbincangan,.Mbah Google sadar jika ada yang salah dalam layanan terjemahan dalam situs pencariannya. Jika Rabu (19/10) dalam layanan terjemahan Google arti bahasa Inggris dari Didi Kempot masih Michael Jackson, sejak Kamis (20/10) sudah berubah menjadi arti yang sebenarnya. Sekarang arti bahasa Inggris dari Didi Kempot ya tetap Didi Kempot. Tapi setidaknya sudah banyak yang menyaksikan jika seniman asal Indonesia itu sudah selayaknya disejajarkan dengan Michael Jackson karena karya-karyanya yang dikenal banyak orang.

Memang sejak dirubah ke dalam terjemahan aslinya banyak orang yang tidak percaya karena tidak bisa secara langsung melihat hal lucu yang terjadi beberapa hari terakhir. Barusan ada teman yang bilang jika Ternyata Didi Kempot adalah Michael Jackson merupakan hal bohong. Tapi bukan itu jawabannya, sodara kita hanya kurang beruntung karena belom bisa menyaksikan hal lucu itu. Tapi setidaknya masih ada yang tersisa dari hal lucu yang terjadi pada layanan terjemahan itu.

Dengan kejadian itu, semoga layanan terjemahan bisa memberikan arti yang sebenarnya. hahahaha,.

Rabu, 19 Oktober 2011

Ternyata Didi Kempot adalah Michael Jackson


Layanan terjemahan dari situs pecarian terbesar Google, cukup mengagetkan banyak pihak. Penyanyi Didi Kempot diterjemahkan google sebagai Michael Jackson. Bermula dari status Dedy Kurniawan yang berbunyi 'COBA ANDA KETIK kalimat "didi kempot" menggunakan Google Translate (terjemahan) dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. coba liat hasil terjemahannya.... sungguh mengagetkan.. :D hahahaha.......

Setelah ditelusuri, ternyata benar adanya. Didi Kempot diterjemahkan Michael Jackson. Memang sebuha kehormatan bagi seniman Indonesia, tapi juga peringatan bagi pengguna mesin terjemahan Google. Agar berhati-hati dalam menterjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Kalau tak percaya, silahkan mencoba.

sumber : bangyuki.com

Selasa, 11 Oktober 2011

'Badai Pasir' Melanda Blitar




BLITAR - Puluhan mobil yang melintasi Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi siang tadi sekitar pukul 11.00, terjebak badai pasir. Peristiwa itu terjadi menjelang rombongan pejabat hendak mendekati sebuah peternakan sapi perah yang sangat besar pada ketinggian 900 mdpl di lereng Gunung Butak. Sebab rombongan yang terdiri dari puluhan mobil itu melintasi jalanan tanah yang sangat kering. Praktis begitu melintasi jalanan itu, debu-debu beterbangan dan menghalangi penglihatan kendaraan yang ada di belakang. Sekilas dari mobil yang berada paling belakang, rombongan mobil yang ada di depan tampak seperti memasuki badai pasir. Satu persatu mobil menghilang begitu memasuki pekatnya debu yang menghalangi pandangan mata.

Namun setelah melewati badai pasir itu, rasa lelah terbayar dengan pemandangan hamparan pohon pinus dan perkebunan teh di Perkebunan PTPN XII Bantaran bagian Sirahkencong pada ketinggian 1.075 mdpl. Meski terik matahari menyengat, udara dingin langsung menyambut begitu berada di dekat pepohonan yang rindang. Hahahaha,.sudah lama tidak merasakan kedinginan. Sayang karena ikut rombongan, jadi tidak bisa tinggal menikmati dinginnya malam Sirahkencong. Untuk saat ini, jalur menuju Sirahkencong melalui Desa Tegalasri dan Desa Ngadirenggo, Wlingi dan pulang melalui jalur perkebunan Kawisari dan Desa Semen, Gandusari masih memberikan sensasi pegal linu. Namun itulah yang menjadi tanda pengingat tidak menghilangnya kenangan dari Sirahkencong, meski telah menjejakkan kaki untuk kesekian kalinya. Mantab!!!!!

Memang kondisi jalan makadam yang terjal dengan efek pegal linu yang masing-masing jalur mencapai panjang 11 km dan hanya sebagian yang sudah diaspal,  tidak semua orang bisa menikmatinya. Maka dari itu agar keindahan alam itu bisa dinikmati semua orang, Pemkab Blitar berencana membangun akses menuju 'mutiara hijau' yang tersembunyi di ujung utara Kecamatan Wlingi. Ayooo pak kami tunggu realisasi janjimu,.



Sabtu, 08 Oktober 2011

Mengunjungi Bayi Jumbo 5,6 Kilogram Asal Rejowinangun, Kademangan


Belum Diberi Nama, Sementara Dipanggil Tole Jumbo

Imroatul Khanifa, 38, melahirkan bayi super jumbo. Bagaimana tidak, berat badan bayinya mencapai 5,6 kilogram melalui proses persalinan caesar. Kelahiran bayi ini mencuri perhatian warga Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan. Berikut laporannya.

Yanu Aribowo, Blitar

Kelahiran anak kelima bagi pasangan Muhroji, 45, dan Imroatul Khanifah, 38, membawa berkah dan kejutan. Bayinya dilahirkan pada Kamis (29/9) sekitar pukul 18.00 itu berat badan tidak lazimnya bayi alias langka. Sebab, berat badannya mencapai 5,6 kilogram. 

Kelahiran bayi montok dengan panjang 52 sentimeter itu tentu mengejutkan orang tua dan keluarga yang saat itu tengah menunggui proses persalinan di RS Eramedika, Ngunut, Tulungagung. Sebab, kelahiran bayi dengan berat badan di atas rata-rata itu atau istilah medisnya makrosomia sangat jarang terjadi. Saat ini bayi yang masih berumur delapan hari itu tampak seperti bayi usia tiga bulan.

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, sejak Minggu (2/10) lalu bayi yang belum diberi nama itu dirawat di rumah neneknya, Siti Rokhana, 59, di Desa Rejowinangun. Sebelum mendapatkan nama resmi, bayi itu sering kali dipanggil tole jumbo atau anak laki-laki yang besar. Bayi montok itu sengaja dibawa pulang ke rumah neneknya, agar mendapat perhatian dan perawatan yang maksimal, jika pasutri yang telah dikaruniai lima anak itu mengalami kendala. Praktis sejak mendapatkan perawatan di rumah Siti, masyarakat sekitar dan kerabat satu per satu datang silih berganti untuk ikut jagong bayi. Banyak yang merasa heran dengan kelahiran bayi montok itu. Sebab empat anak Imroatul kelahirannya normal dengan berat badan antara 3,5 kilogram hingga 3,8 kilogram, dan empat anak itu lahir dengan proses normal.

Namun khusus anak bungsunya itu, proses kelahirannya harus melalui operasi caesar. Sebab dengan kondisi berat badan di atas rata-rata, seorang perempuan akan sulit melahirkan seorang bayi jumbo dengan kelahiran normal, apalagi untuk ukuran orang Asia. Selain itu, pada proses persalinan awalnya kehadiran bayi jumbo itu dikira anak kembar. Sebab dengan kondisi perut ibu yang sangat besar, bidan setempat di Rejotangan, tempat pasutri itu selama ini tinggal menyarankan persalinan dilakukan di rumah sakit dengan operasi. “Katanya kembar, kok malah jumbo,” ujar Siti, nenek bayi itu.

Awalnya bidan yang memeriksa kandungan bayi menduga jika Imroatul akan mendapatkan bayi kembar. Selain itu pada saat proses persalinan, Imroatul juga membutuhkan waktu yang lama, sehingga akhirnya diputuskan untuk operasi caesar. Sebab selama ini, kondisi kandungan memang lebih besar jika dibandingkan dengan kandungan empat orang kakaknya. Bahkan pada saat kehamilan, berat badan sang ibu mencapai 117 kilogram. Padahal pada empat kehamilan sebelumnya berat badan sang ibu tak pernah mencapai berat 90 kilogram.

Sementara itu, dari ilmu kedokteran, kelahiran bayi dengan berat di atas rata-rata itu diistilahkan makrosomia. Proses kelahiran bayi masuk kategori makrosomia jika berat badan bayi di atas empat kilogram. Untuk wilayah Blitar Raya sendiri, kelahiran bayi dengan berat badan 5,6 kilogram pernah terjadi sekitar setahun yang lalu di wilayah Kota Blitar. Nah, dengan kondisi itu pihak dokter menyarankan, agar bayi itu harus mendapatkan perhatian yang serius. Pihak keluarga harus rutin mengecek kondisi kesehatan untuk menghindari kekhawatiran karena kekurangan kadar gula atau hipoglikemi.

Menurut dokter kandungan, kelahiran bayi dengan berat badan di atas empat kilogram merupakan bayi di atas normal. Penyebabnya sendiri terdapat tiga faktor, yakni faktor keturunan, sang ibu mengidap diabetes, atau kehamilan yang telah melewati waktu kelahiran atau di atas 42 minggu kehamilan. Dan frekuensi proses kelahiran dengan berat empat kilogram ada 5,3 persen. Sedangkan untuk berat di atas lima kilogram sangat jarang sekali, atau pada kisaran 0,3 persen. Dan dengan berat bayi di atas lima kilogram sebanyak 70 persen harus melalui operasi caesar.  “Dan kelahiran seperti itu sangat jarang terjadi di wilayah Indonesia,” jelas dr Djamil Suherman, SpOG

Sedangkan saran dari dokter anak, si bayi jumbo itu harus mendapatkan asupan air susu ibu (ASI) yang lebih banyak dibandingkan bayi dengan berat normal. Dan yang terpenting, bayi harus diperiksa gula darahnya karena berat badannya melebihi ukuran lahir normal. Pada bayi dengan berat badan lahir di atas empat kilogram, jika mengalami hipoglikemi sering menyebabkan gangguan otak, energi kurang, oksigen kurang yang sering menyebabkan kematian mendadak. “Yang kita takutkan adalah kekurangan kadar gula atau disebut hipoglikemi. Maka dari itu bayi harus selalu diperiksakan kesehatannya,” jelas dr Sukardi SpA.

Sebab, usai proses kelahirannya, tole jumbo sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit selama tiga hari, karena mengalami detak jantung yang lemah di bawah normal. Kini bayi itu dirawat di rumah sang nenek di Desa Rejowinangun. Pihak keluarga sendiri berencana memberikan nama untuk tole jumbo pada pekan ini, sambil menunggu pencarian nama dari bapaknya. (*)

dipangku sang nenek