BLITAR – Pangsa pasar kakao yang sangat bagus, dengan peningkatan per tahun yang signifikan, bisa menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Bahkan data terakhir, penyerapan pasar kakao di Indonesia mengalami pertumbuhan sekitar lima persen. Saat ini, di Indonesia kebutuhan kakao tak terhingga, dan produksi di negeri ini masih sekitar 600 ribu ton per tahun. Tentu dengan kondisi tersebut, masih terbuka peluang besar bagi pelaku usaha baru untuk menekuni budidaya Kakao. Untuk wilayah Kabupaten Blitar sendiri, saat ini masih mampu memproduksi sekitar 600 ton per tahun. Produksi itu berasal dari luasan lahan sekitar 3000 hektare, yang menyebar rata di 22 kecamatan. Dengan kemampuan tumbuh di berbagai medan, kesempatan ikut budidaya bahan baku coklat ini masih luas, karena kebutuhan nasional masih tinggi. “Sebab, kakao tidak bisa tumbuh di semua negara. Sementara semua negara membutuhkan kakao,” jelas Ketua Asosiasi Petani Kakao Jawa Timur, Kholid Mustofa.
Ku persembahkan karya kecil ini untuk Blitar Raya, semoga bermanfaat. Blog ini berisi tentang hal menarik di seputar Blitar Raya. Dengan wilayah 25 kecamatan kabupaten/kota, tentu sangat banyak hal menarik yang bisa dinikmati. Untuk itu karya sederhana ini hadir dan Insya Allah masih terus berkarya, karena masih banyak tentang Blitar Raya yang bisa dituliskan di sini. Tunggu karya berikutnya. AKU BANGGA JADI WONG BLITAR [ocehan si Ndanden]
Kamis, 14 November 2013
Rabu, 13 November 2013
Kesenian Jaranan Tongkir
Jiwa seni anggota
Paguyuban Kesenian Jaranan Tongkir Wargo Budoyo Ngudi Laras di Dusun Rejokaton,
Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari, patut diacungi jempol. Dari awalnya
hanya berupa grup pengamen jalanan, kini para seniman ini menjadi grup penampil
panggung. Grup tongkir, memiliki alat perkusi dari bahan utama bambu dan muncul
sekitar tiga tahun lalu di wilayah Gandusari, Garum, dan Wlingi. Menurut Eko
Manowo, 44, anggota grup ini ada 22 orang, yakni penabuh gamelan bambu, penari,
dan sinden. Sebenarnya kesenian ini hampir sama dengan kesenian kuda lumping
pada umumnya, yang berisi kuda lumping, remo, singo barong, celengan, dan
jaipong. Dan yang membedakan adalah perangkat gamelannya berbahan utama bamboo,
sepeti demung, saron, kenong, bonang, dan gong.
Senin, 11 November 2013
Gedang Godok kancane Kacang Godok
Jajanan tradisional yang disuguhkan Mbah Damini, 60, warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, memang top. Setiap hari perempuan sepuh ini keliling ke berbagai tempat di Kota Blitar, untuk menjajakan pisang rebus dan kacang rebus. Dengan wadah yang digendong, hari demi hari perempuan ini sabar mengumpulkan rezeki yang tersedia di jalanan. Sepasang pisang rebus alias dua biji dijual seharga Rp 3 ribu, dan kacang rebus dengan takaran semangkuk kecil seharga Rp 3 ribu. Semangat Mbah, Sukses dan Sehat Selalu. :) Obah Mamah Ono Dino Ono Upo
Parade Seni Beladiri Tradisional 2013
Waaaah kayaknya bakal ramai. Parade Seni Beladiri Tradisional di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat, pada Sabtu, 16 November 2013, mulai pukul 18.30. Kegiatannya antara lain unjuk kebolehan pencak dor, pertandingan tinju amatir, pertandingan wushu, dan bazaar rakyat. Monggo bagi penggemar seni beladiri tradisional silakan merapat malam Minggu ini untuk menyaksikan unjuk kebolehan para pendekar dan atlit. Sukses selalu untuk bapak/mas M. Shobiri, Mubaidah, KH. Gholib Thohir, H. Imam Syafi'i Sulaiman, KH. Muhson Hasim, Miftakhul Khoirudin (Stack Poncogati), dan Imam Khasani.
Minggu, 10 November 2013
Ikan Gurami, Telur Menetas Dapat Duit
BLITAR – Pasar ikan Gurami yang masih luas, membuat budidaya ikan ini dilirik dan diminati pembudidaya di Blitar Raya. Seperti yang digeluti Suprianto, 46, warga Dusun Bakulan, Desa Bendosewu, Kecamatan Talun. Sejak 1995 lalu, pria yang biasa disapa Anto, ini sudah menggeluti budidaya ikan Gurami. Di Blitar sendiri, pembudidaya Gurami ada di beberapa kecamatan, antara lain Talun, Kanigoro, Selopuro, Sutojayan, dan Kademangan. Saat ini, untuk keberlangsungan usahanya, Anto memiliki ikan Gurami indukan sebanyak 180 ekor, yang terdiri dari betina 150 ekor dan jantan 30 ekor.
Langganan:
Postingan (Atom)
