Senin, 01 April 2013

Sejuta Lele ke Luar Pulau

 

BLITAR – Pangsa pasar luar pulau bibit ikan lele yang tinggi, membuat budidaya ikan air tawar ini semakin dilirik para pembudidaya. Tak hanya itu, keuntungan yang didapatkan juga sangat menggiurkan. Meski sudah banyak yang menekuninya, kebutuhan pasar yang tinggi belum mampu dipenuhi. Kesempatan yang masih terbuka lebar, itu setidaknya bisa menjadi peluang untuk membuka usaha baru.

Budidaya bibit lele ini seperti yang ditekuni pasangan suami istri (pasutri) Dian Arifin, 26, dengan Atik Muji Rahayu, 26, dalam lima tahun terakhir. Budidaya yang digeluti warga Dusun Duwet, Desa Duren, Kecamatan Talun, ini ada dua jenis. Yakni, jenis Sangkuriang dari Majalengka, Jawa Barat dan jenis F keluar pabrik pakan asal Sidoarjo. Dua jenis ini memiliki keunggulan masing-masing, Sangkuriang memiliki telur yang banyak, dan F memiliki postur yang panjang.

Pangsa pasar yang luas membuat kebutuhan bibit ikan lele ini sangat tinggi. Dari wilayah Blitar, bibit ikan lele antara lain diserap oleh wilayah Tulungagung, Kediri, Kalimantan, dan Sulawesi. Saat ini pembeli dari luar kota, banyak yang datang langsung ke pembudidaya untuk mengambil bibit ikan lele. Dalam sebulan pasutri ini mampu membiakkan hingga mencapai 80-90 ribu ekor dengan ukuran 3-4 sentimeter. Pasar luar pulau, yakni Sulawesi dan Kalimantan, sangat bagus dan tinggi. Pada dua wilayah itu, dalam sebulan kebutuhan lebih dari satu juta ekor. “Saat ini para pembudidaya masih kekurangan untuk memenuhi pasar Sulawesi dan Kalimantan,”jelas Dian.
Apalagi, lanjut Dian, saat ini sedang musim kemarau, sehingga membuat induk ikan lele sulit bertelur. Untuk harga pasaran, saat ini bibit ikan lele ukuran 3-4 sentimeter berkisar pada Rp 55-60 ribu per seribu ekor. Biasanya proses distribusi dilakukan menggunakan jeriken 30 liter, dengan isi 3-4 ribu ekor bibit ikan lele ukuran 3-4 sentimeter. Saat ini, kendala yang dialami pembudidaya pada musim kemarau adalah suhu yang tidak menentu. Pada siang hari sangat panas, jika malam hari sangat dingin. “Cuaca yang berubah itu berdampak pada induk susah bertelur,” ujarnya.
Sedangkan penyakit yang banyak menyerang bibit ikan lele antara lain, cacar, ekor busuk, moncong putih. Jika sudah ada serangan penyakit ini, pembudidaya bisa langsung memberikan obat antiseptik dan kekebalan, yang bisa dibeli dari toko peternakan dan pakan ikan. Di wilayah Blitar, budidaya lele menyebar hampir merata, antara lain wilayah Talun, Wlingi, Selopuro, Kanigoro, Sutojayan, dan Sanankulon. Dari budidaya ikan lele, keuntungan yang diperoleh sangat tinggi. Dengan kapasitas produksi dalam sebulan sekitar 90 ribu, biaya produksi dan perawatan dalam sebulan sekitar Rp 1-1,5 juta.
Untuk pembibitan nener atau bibit lele, bisa diawali menyiapkan bakal indukan, yakni lele yang telah berumur 7-8 bulan. Pada masa ini, jenis kelamin lele sudah bisa diketahui dengan jelas. Perbandingan yang digunakan adalah dengan menangkar sebanyak satu ekor lele jantan dengan dua ekor lele betina. Dalam menyiapkan bakal bibit ini, asupan makanan yang diberikan adalah pakan yang mengandung protein tinggi dan rendah lemak. Diantaranya pelet dan daun pepaya serta daun talas atau lompong. "Makanan diberikan satu kali sehari, pagi atau sore," ujar Dian.
 
Untuk tahap awal bisa dipersiapkan kolam ukuran 2x1 meter, yang digunakan untuk tempat pembesaran 15 ekor lele bakal indukan. Air pengisi kolam adalah air keruh, sehingga membuat lele nyaman. Sebab kalau air dalam kondisi bersih, dikhawatirkan bakal indukan lele akan cepat berkembang biak, sehingga berakibat bertelur premature.
Jika bakal indukan lele sudah siap bertelur, ikan ini akan menunjukkan ciri khusus, yakni perutnya dalam kondisi lentur saat disentuh dan alat kelamin betina berwarna biru. Jika pembiakan diinginkan lebih maksimal, perbandingan jantan betina dalam satu kolam bisa menggunakan 1:1. Pada tahap ini, pembudidaya akan menyaring ikan lele dan mengecek kondisi fisiknya untuk mengetahui kesiapan dibiakkan.
Rata-rata pada umur 1,5 tahun, ikan lele sudah siap untuk dipijah atau dikawinkan. Jika sudah ditemukan bakal indukan lele yang sudah siap dikawinkan, ikan-ikan itu segera disendirikan untuk menjalani proses kawin. Media yang digunakan adalah kolam air bersih ukuran 3x6 meter, yang diisi tiga ekor bakal indukan. Biasanya ikan mulai dimasukkan pada sore hari atau sekitar pukul 16.00. Pembiakan sendiri terjadi pada malam hari dan pagi hari biasanya sudah terlihat ada telur ikan lele.
 Pada pukul 07.00, indukan yang sudah berkembang biak harus diambil dan dikembalikan ke kolam indukan. “Ribuan telur terlihat seperti butiran pasir. Induk siap dipijah sekitar 3-4 bulan lagi,” ujar bapak satu anak ini.
Dalam waktu 24 jam ribuan telur tersebut segera menetas. Nah, untuk proses pertumbuhan yang baik, kolam harus ditutupi paranet atau terpal agar tidak mendapatkan panas sinar matahari secara langsung. Baru pada umur 3-4 hari, nener diberikan asupan makanan berupa cacing sutra selama seminggu atau berumur 10 hari. Selanjutnya, setelah berumur 10 hari bibit lele diberikan makanan berupa tepung udang. Baru pada umur 18 hari, bibit lele siap untuk dilakukan pemilahan, berdasarkan ukuran besar kecil postur tubuhnya.
Bibit lele dipilahkan, berdasarkan ukuran postur tubuhnya, mulai dari dua sentimeter, satu sentimeter, hingga kurang satu satu sentimeter, dengan ayakan khusus untuk ikan. Setelah dipilah, bibit ikan lele kemudian dipindahkan ke kolam ukuran 4x7 meter. Perlu diperhatikan, sebelum memasukkan bibit ikan lele dalam kolam baru. Yakni, kolam harus dipersiapkan terlebih dulu pengisian airnya sekitar empat hari sebelum pemindahan. Sebab, jika air masih baru, bibit ikan lele bisa stres karena kadar oksigennya masih kurang memadai.
Selanjutnya, untuk ukuran satu dan dua sentimeter diberikan asupan makanan berupa pelet paling lembut. Sedangkan yang kurang dari satu sentimeter, dibiarkan tetap pada kolam semula dan tetap diberikan asupan makanan berupa tepung udang. Bibit ikan lele baru siap untuk diperjualbelikan pada umur sebulan dengan ukuran standar sekitar 3-4 sentimeter.
Di pasaran, bibit lele layak jual ini biasanya dimanfaatkan untuk konsumsi dan bakal indukan. Untuk konsumsi, bibit ikan lele akan dibesarkan terlebih dahulu hingga berumur empat bulan. Sedangkan untuk bakal indukan, lele akan dibesarkan hingga umur 7-8 bulan. Pada masa ini, ikan lele sudah bisa dibedakan antara jantan dan betina. Jika jantan, postur tubuh panjang dan kelamin juga panjang. Sedangkan ikan lele betina, lebih gemuk pendek dan kelamin pendek bulat. (ynu/ris)
 
Sumber: Radar Blitar
 

Jenis Lele Budidaya:
- Sangkuriang dari Majalengka, Jawa Barat
- F, keluar pabrik pakan asal Sidoarjo
Keunggulan:
- Sangkuriang memiliki telur yang banyak
- F memiliki postur yang panjang
Penyakit Bibit Lele:
- Cacar
- Ekor busuk
- Moncong putih
Budidaya Lele di Blitar:
Talun, Wlingi, Selopuro, Kanigoro, Sutojayan, dan Sanankulon.
Keuntungan Budidaya Lele:
- Kapasitas produksi dalam sebulan sekitar 90 ribu
- Biaya produksi dan perawatan dalam sebulan sekitar Rp 1-1,5 juta.
Sumber: Dian, pembudidaya lele asal Talun, Blitar
 
 
 
 
 
 
 
 

7 komentar:

  1. mosok to mbak nani,,.heheh blitar pundi

    BalasHapus
  2. maaf boleh tau alamat / ancer2 nya pak dian arifin dmn ya? atau boleh minta contact personnya? bisa dikirim lewat email adelia_ratna92@yahoo.co.id
    hhe.. ortu saya lagi nyari tempat pembibitan lele.

    BalasHapus
  3. bagus...!!! Singkat padat dan berisi

    BalasHapus
  4. kapan-kapan saya harus lihat sendiri segala sesuatunya ttg...gar paham dan membuka wawasan ttg...mohon dukungan

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum..
    Yang butuh lele daerah Blitar dan sekitarnya bisa kunjungi disini...

    http://leleoasis.blogspot.com/2017/03/jual-lele-konsumsi-blitar-dan-sekitarnya.html

    BalasHapus