Minggu, 08 April 2012

Brigadir Cahya Suryaningtyas, Anggota Polres Blitar yang juga Dalang

Yanu aribowo/radar blitar

BELAJAR DARI AYAH: Ki Cahyo Tatit saat pentas peringati HUT ke-65 Bhayangkara kemarin malam.


Setiap Pentas Selalu Selipkan Misi Kepolisian

Aktivitas Brigadir Cahya Suryaningtyas tidak melulu berurusan dengan penanganan kejahatan. Tapi, anggota Satreskrim Polres Blitar  memiliki skill dalam pedalangan.  Berikut laporannya. 

Yanu Aribowo, Blitar

Bagi Ki Cahyo Tatit, nama panggung Cahya Suryaningtyas, menjadi anggota Polri dan dalang bukan beban, apalagi saling bertolak belakang. Malah dalam pemikirannya, menjalani dua profesi itu bisa memberi kepuasan batin tersendiri. Menjadi polisi, dia dituntut untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Begitu juga menjadi dalang. Dia juga melayani masyarakat dalam lingkup yang berbeda yakni menghibur masyarakat. 


Hobi menyabet wayang di kain partikelir itu baru dijalaninya lima tahun terakhir. Saat di atas panggung, Ki Cahyo menyisipkan tugas-tugas kepolisian dalam cerita pewayangan. Seperti yang terlihat kemarin malam di Wlingi, dalam rangkat peringatan HUT ke-65 Bhayangkara serta Syukuran Purna Tugas AKP Miswandi, KBP Reskrim Polres Blitar. Dalam alur cerita Semar Bangun Kahyangan dengan didampingi tujuh sinden yang mengiringi hingga akhir pementasan, Ki Cahyo juga memberi contoh agar masyarakat lebih sadar hukum. Yakni masyarakat bisa lebih pro aktif dalam membantu menjaga keamanan lingkungan masing-masing, sehingga antara kepolisian dan masyarakat terjadi kemitraan yang saling menguntungkan.

Sebagai penyidik dalam Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Blitar, pria yang pernah bercita-cita masuk Institut Seni Indonesia (ISI) Solo itu dalam setiap penampilannya selalu menyisipkan pengalamannya menangani kasus kejahatan yang terhadap perempuan dan anak. Karenanya, sangat perlu dilakukan upaya bersama untuk meminimalkan terjadinya kejahatan dengan meningkatkan saling pengawasan di tengah masyarakat. “Memang sengaja saya selipkan misi-misi kepolisian dalam setiap pementasan saya agar mudah diterima oleh masyarakat,” ujar jebolan Pusat Pendidikan (Pusdik) Sabhara Polri, Porong, Sidoarjo tahun 2001 ini.

Di balik bakat seninya itu, kegemarannya akan wayang kulit bukan datang begitu saja. Sebagai anak Ismani Mulya Winata (alm) alias Gacis Jalak Uren, seorang dalang yang pernah eksis pada periode 1983 – 1990 serta MC pernikahan, sejak kecil Cahya sudah mengenal dunia pewayangan. Bahkan sejak bangku kelas IX SMPN 6 Blitar, suami Puji Tyas Rahayu, 29, pekerja harian lepas (PHL) Polsek Gandusari, itu mulai tekun belajar kepada bapaknya sendiri. Pada saat itu tinggal di Lingkungan Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Pada saat sang bapak mendapatkan job, Cahya ikut membantu menampilkan adegan meski hanya beberapa sesi saja. “Biasanya membantu pada saat perang,” ujar jebolan SMK Katolik 1997 ini.

Cahya kecil mulai mengenal satu per satu karakter pewayangan dan mulai mempelajari berbagai cerita pewayangan. Namun karena kesibukan sekolah dan diterima pendidikan kepolisian di Sidoarjo 2001, intensitas menekuni dunia wayang kulit mulai menurun. Selain itu, sejak duduk di SDN Sentul 04 dan SMPN 6 Blitar, Cahya pernah meraih juara II dan III, dalam lomba tembang Jawa Macapat. Namun darah seni yang mengalir dalam diri pria yang tinggal di Desa Gandusari, Kecamatan Gandusari itu tidak hilang begitu saja.

Pada Juli 2006 lalu, pada saat acara bersih desa di tempat tinggalnya, semangat menekuni dunia wayang kembali bangkit. Masyarakat setempat mendapuknya sebagai dalang, karena ada yang mengetahui bahwa ayah dari Maria Pramesti Ayu Cahyani, 5, itu memiliki kemampuan mendalang. Praktis, sejak mendapatkan amanat dari desa itulah Cahya mulai kembali berlatih mengasah kemampuannya. 

Nah, sejak penampilan perdananya itulah kesibukan mendalang terus berlanjut hingga sekarang ini. Setidaknya sejak acara bersih desa itu, sudah 35 kali dia tampil di berbagai kota diantaranya di Tulungagung, Blitar, dan Pasuruan, yakni di Pusdik Brimob Watukosek, pada saat peringatan HUT Bhayangkara ke 64 atas undangan mantan Kapolres Blitar AKBP Eko Iswantono yang menjabat di Pusdik Brimob Watukosek kala itu. Paling dalam satu bulan, Cahya bisa mendapatkan order sekitar 1 – 2 kali tampil. Selain Brigadir Cahya, masih ada lagi anggota kepolisian yang pawai memainkan wayang. Yakni Kanit Reskrim Polsek Ponggok Aiptu Habib Yunus. Pada kesempatan kemarin malam, pria berkumis tebal itu menyumbangkan lagu yang dilantunkan bareng seorang sinden.(*)

Sumber : Radar Blitar, 4 Juli 2011







Tidak ada komentar:

Posting Komentar