Jumat, 04 Juli 2014

KH Hasbulloh & KH Dimyati Selopuro



KH Hasbulloh, dan KH Dimyati, merupakan kiai berpengaruh dari Desa Ploso, Kecamatan Selopuro. Kini sepeninggal kiai, yang merupakan ayah dan anak, makam keduanya di Dusun Kasim, Desa Ploso, menjadi jujugan para peziarah dari berbagai kota. Untuk mengenang jasa-jasa beliau digelar dzikir akbar Majelis Dzikir Kanzul Jannah “Jumpa Sehat” pada Kamis Legi malam Jumat Pahing. KH Hasbulloh, dikenal sebagai Kiai Nalindra, yakni seorang ksatria merangkap kiai dan pejabat, yakni pernah menjabat legislatif dan Kepala Desa Ploso. Nama kecil KH Hasbulloh, adalah Irdali dan berganti Roihuddin, setelah mondok. Ketika naik haji namanya ditambah menjadi KH Hasbulloh. Konon beliau adalah keturunan Sunan Geseng, dan lahir di Kali Watubumi, Bedug Butuh, Begelen, Purworejo, Jawa Tengah.

Kamis, 03 Juli 2014

Habib Achmad bin Alwi Assegaf


Habib Achmad bin Alwi Assegaf, pendakwah Islam asal Hadramaut, Yaman, ini masih memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW, ke-34 melalui Syayidina Husain. Saat masih hidup dikenal sangat dermawan, dan sarana dakwahnya adalah berdagang sambil membawa dokar. Sebelum menikah di Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanankulon, Habib Achmad, telah menikah di Surakarta dan dikaruniai empat putri dan seorang putra.

Kedatangannya di wilayah Blitar, karena pesan Habib Munir, kerabat yang lebih dulu tinggal dan menikahi Bu Pir, perempuan Desa Tuliskriyo, dan kemudian kembali ke tanah kelahirannya di Hadramaut, Yaman. Habib Achmad mendapatkan amanat agar mendatangi Desa Tuliskriyo, untuk menemui seorang anak Habib Munir, yakni Umi Khulsum dan akhirnya diperistri, namun tidak dikaruniai anak. Habib Achmad wafat pada 1951 dan dimakamkan di belakang Masjid Riyadhlotus Sholikin, di Desa Tuliskriyo. Haul Habib Achmad biasanya diagendakan setiap akhir Syawal, selain itu setiap Kamis Kliwon malam Jumat Legi, juga digelar tahlilan dan salawatan bersama.

Rabu, 02 Juli 2014

Syech Abu Hasan, Guru Ulama Besar




Al Maghfurlah Syech Abu Hasan, merupakan tokoh kharismatik yang memiliki jasa besar mengembangkan Islam. Yakni berjasa dia mendirikan Ponpes Nurul Huda, Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, ponpes tertua di Blitar Raya, yang didirikan pada 1830 silam. Haul Akbar Syech Abu Hasan, yang digelar setiap 11 Muharram, dengan jamaah yang berasal dari Blitar, Malang, Jombang, hingga Jogjakarta. Di lokasi itu, selain kiai asal Jogjakarta, ini juga ada makam Nyai Buriyah, sang istri serta anak cucunya. Sebagai tokoh Islam pada pertengahan 1800-an, Syech Abu Hasan menurunkan beberapa tokoh-tokoh Islam yang tersebar di berbagai daerah. Antara lain cucu beliau adalah KH Sholeh (Blitar), KH Abu Masar (Blitar), KH Mukarom (Kediri), KH Hamam (Blitar), KH Mansur (Blitar), KH Imam Royan (Blitar), KH Umar (Blitar), dan KH Zahid (Blitar).

Selasa, 01 Juli 2014

KH Nur Miftah, Kiai Seribu Masjid


KH Nur Miftah, yang juga disapa Mbah Solihi ini mempunyai julukan Kiai Seribu Masjid. Makam beliau berada di Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Putra Putri Raudlatul Hanan, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, yang didirikannya pada 1995 silam. Selain ziarah Ramadan, biasanya juga ada ziarah Kamis Kliwon malam Jumat Legi, dan Jumat Legi malam Sabtu Pahing. KH Nur Miftah, wafat pada usia 77 tahun, yakni hidup pada masa 25 Agustus 1932 hingga 27 Agustus 2009. Beliau meninggalkan seorang istri Nyai Hj Muthmainah, 62, dan 10 orang anak. Julukan Kiai Seribu Masjid, ini karena semasa hidupnya kiai kharismatik ini sering diundang untuk memberikan doa dan tumbal saat mendirikan sebuah masjid. Yakni di beberapa kota, seperti di Blitar, Kediri, Malang, Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk, Jombang, hingga Surabaya.