Jumat, 03 Agustus 2012

Ulat Hongkong, Si Kuning yang Menjanjikan


Si Kuning yang Menjanjikan 

BLITAR – Bagi pencinta burung berkicau, khususnya yang pemakan ulat, tentu tidak asing lagi dengan ulat Hongkong. Meski agak menjijikan, namun ternyata prospek bisnis ulat ini cukup menjanjikan. Bahkan pangsa pasar ulat ini cukup bagus dan luas, mulai Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Inilah yang membuat beberapa warga tertarik untuk membudidayakan ulat dengan nama lain meal worm atau yellow meal worm ini. Seperti yang dilakukan beberapa warga di Kelurahan Satriyan, Kecamatan Kanigoro. Beberapa tahun terakhir, budidaya ulat sudah menjadi salah satu penghasilan yang menjanjikan, khususnya bagi warga yang memahami peluang usaha tersebut. Di kelurahan tersebut setidaknya ada empat warga yang menggantungkan penghasilan dari penjualan hasil budidaya ulat, mulai ternak hingga pengepulan untuk didistribusikan ke beberapa kota di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. 

Menurut Siti Asiyah, 52, warga setempat pembudidaya ulat tersebut mengatakan, budidaya ulat Hongkong itu susah-susah gampang. Bagi pemula disarankan untuk memulai dengan bibit sekitar enam kilogram, yang terbagi menjadi enam kotak. Selanjut dalam waktu 20 hari berikutnya, menambahkan lagi pembibitan. Pada hasil panen pertama, disarankan hasilnya digunakan untuk pembibitan tambahan. Jadi peternak dalam tahap awal, diharapkan fokus pada memahami siklus ulat Hongkong secara keseluruhan.

Usaha ini memang cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, harga ulat Hongkong di pasaran saat ini tergolong stabil pada kisaran Rp 20 ribu perkilogramnya. Jika sedang melambung, harga bisa menyentuh Rp 27 ribu per kilo. Harga terendah yang pernah terjadi pada kisaran Rp 12 ribu per kilo. Harga ulat ini sendiri dipengaruhi musim penghujan.

Berdasarkan pengalaman budidaya ulat Hongkong selama ini, kata Siti, sebenarnya bibit ulat berwarna kuning, itu sama saja dengan ulat Hongkong yang dijual di pasaran. Tidak ada bibit khusus. Namun yang membedakan adalah, cara peternak dalam memperlakukan ulat tersebut saat dalam proses budidaya. Dari bibit ulat yang sama, jika penanganan peternak berbeda, tentu akan mempengaruhi dalam hasil akhir budidaya.

Namun, secara umum ciri-ciri ulat Hongkong yang baik adalah, secara fisik kulitnya mengkilap dan bergerak lincah, yakni saat ulat-ulat itu digenggam dalam proses pemilahan. Sebaliknya, jika kulit terlihat pucat dan lemas, bisa jadi ulat itu dalam kondisi tertekan atau stres. Biasanya umur ulat yang menjadi bibit atau ulat siap jual adalah maksimal 50 hari. “Budidaya ulat ini gampang-gampang susah. Tapi harus telaten, tidak cukup dipandang mata,” ujar Siti.

Ilmu tentang budidaya ulat ini memang harus dipraktikkan, karena ulat sangat butuh perhatian khusus. Istilahnya sama seperti manusia, ulat juga punya perasaan. Nah, untuk memahami perasaan ulat ini, maka peternak harus mencoba dan terus mencoba dalam memahami perilaku ulat ini. Sebab, kalau dilakukan dengan asal-asalan, hasilnya jelas tidak akan maksimal.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait perilaku ulat kuning ini, terutama masalah makan, suhu kelembaban tempat budidaya. Untuk itu harus ada pengaturan penempatan ulat agar bisa berkembang biak dengan baik. Sesuai dengan sirkulasi perkembangan ulat, bisa diketahui tahapan-tahapan pertumbuhan ulat Hongkong. Dari bibit yang berumur 50 hari, ulat-ulat ini dikasih makan selama 40 hari ke depan hingga mengalami pertumbuhan dengan sendirinya. Media yang digunakan papan kayu ukuran 80 x 60 x 6 sentimeter, dengan polar atau bekatul yang berasal dari gandum sebagai suplai makanan, serta ditambahkan irisan pepaya sebagai minuman. Sebagai standar, dalam satu kotak bisa diisi dengan ulat dengan total dua kilogram, dan polar sebanyak tiga kilogram. Untuk memperlancar proses pemberian makanan, setiap kali kotoran sudah banyak bisa dilakukan pengayakan dan bisa diganti polarnya.

Setelah mengalami pertumbuhan kira-kira berumur 90 hari, ulat semakin membesar. Jika sudah dalam tahap pertumbuhan maksimal, ulat ini akan berdiam diri di dalam media kotak. Ulat-ulat yang berdiam diri ini sudah mendekati masa-masa menjadi kepompong. Biasanya dalam waktu sekitar 10 hari, ulat-ulat ini berubah menjadi kepompong. Jadi, jika sudah berdiam diri, ulat-ulat ini harus diperhatikan. Jika sudah sampai pada tahap kepompong, peternak harus memperlakukan kepompong ini sehalus mungkin. “Sebab pada tahapan ini ulat sangat sensitif,” ujar istri (alm) Zainal Abidin ini.

Jika sudah menjadi kepompong, harus segera dipisahkan dalam kotak tersendiri. Cara memisahkan kepompong dari media awal ini yang mengharuskan peternak belajar dari pengalaman. Peternak harus hati-hati memisahkan antara kepompong dengan ulat, sebab kepompong mempunyai sifat yang sangat sensitif. Sehingga cara memperlakukan harus sehalus mungkin untuk menghindari kecacatan pada kepompong. Sebab, jika pada tahapan kepompong sudah mengalami cacat, maka calon indukan itu sudah gagal.

Setelah jadi kepompong, ulat dipisahkan dari ulat lainnya berdasarkan sistem kepadatan. Jadi tidak seperti pada media awal dengan perbandingan kilogram. Kepompong diletakkan di dalam kotak dengan alas polar yang tipis, dan sebisa mungkin terjadi penumpukan antara sesama kepompong. Dari kepompong itu, setelah 10 hari akan berubah menjadi serangga putih calon indukan. Dalam beberapa hari, semakin bertambah umur warna serangga itu akan berubah warna menjadi coklat dalam tiga hari. Selanjutnya jika sudah memasuki usia produktif, serangga itu menjadi berwarna hitam. Rata-rata setiap indukan bisa bertelur hingga tujuh kali kesempatan. Masa bertelur biasanya berselang sekitar sepuluh hari.

Dalam masa bertelur, kepompong yang sudah menjadi serangga induk itu harus segera dipisahkan dalam kotak tersendiri. Takaran satu kotak serangga biasanya menggunakan empat gelas air mineral, dengan polar sebanyak dua kilogram. Setelah memasuki masa bertelur pertama dalam 10 hari, serangga indukan dipindahkan lagi dengan cara pengayakan, dan dalam 10 hari berikutnya indukan ini akan bertelur lagi. Jika sudah habis masa bertelur, biasanya serangga indukan akan mati.

Sebagai contoh, dalam panen terakhir di tempat Siti, dari awalnya sebanyak 104 kotak serangga, setelah dilakukan pengayakan menjadi 80 kotak serangga. Jika telur sudah menetas, langsung dilakukan pembesaran hingga berumur sekitar 50 hari, ulat-ulat siap dijual atau dijadikan bibit lagi. “Dalam setiap kali masa bertelur serangga induk mengalami penyusutan,” jelasnya.

Dalam budidaya ulat Hongkong, ancaman utama berasal dari ulat kandang, yang biasa hidup pada kotoran ayam. Selain siklus pertumbuhannya yang lebih cepat, ulat hama ini juga memangsa ulat Hongkong. Jika sudah berwujud serangga berwarna hitam, namun tubuhnya lebih kecil. Maka dari itu, keberadaannya harus segera diantisipasi. Pasalnya, bisa menyebabkan gagal panen.

Untuk mengantisipasinya, peternak biasanya akan menutupi kotak media pembesaran ulat Hongkong dengan daun waru gombong yang sudah kering. Hal itu untuk pengalihan sasaran ulat kandang, agar tidak merusak pertumbuhan ulat Hongkong. Selain itu, yang menjadi pengganggu budidaya ulat Hongkong adalah semut, cecak, tikus, dan kucing. Untuk memaksimalkan hasil pertumbuhan, sirkulasi udara pada kandang harus sebaik mungkin. Para kaki rangka untuk menata kotak media budidaya juga bisa diberikan obat serangga, yang dioleskan pada kain yang dililitkan pada empat semua kaki kerangka. (ynu/ris)

Sumber: Radar Blitar

Telaten: Dwi Wulandari, 32, sedang merawat ulat yang dibudidayakan Siti Asiyah (ibunya).


Budidaya Ulat Hongkong :

Bagi pemula disarankan untuk memulai dengan bibit sekitar enam kilogram, yang terbagi menjadi enam kotak.
Dalam waktu 20 hari berikutnya, menambahkan lagi pembibitan.
Panen pertama, disarankan hasilnya digunakan untuk pembibitan tambahan
Peternak dalam tahap awal, diharapkan fokus pada memahami siklus ulat Hongkong secara keseluruhan

Ciri-ciri Ulat Hongkong :

Secara fisik kulitnya mengkilap dan bergerak lincah, yakni saat ulat-ulat itu digenggam dalam proses pemilahan.
Jika kulit terlihat pucat dan lemas, bisa jadi ulat itu dalam kondisi tertekan atau stres.
Biasanya umur ulat yang menjadi bibit atau ulat siap jual maksimal 50 hari.


Tahapan Pertumbuhan Ulat Hongkong :

Dari bibit yang berumur 50 hari, ulat-ulat ini dikasih makan selama 40 hari ke depan hingga mengalami pertumbuhan dengan sendirinya.
Media yang digunakan papan kayu ukuran 80 x 60 x 6 sentimeter, dengan polar atau bekatul yang berasal dari gandum sebagai suplai makanan, serta ditambahkan irisan pepaya sebagai minuman.
Sebagai standar, dalam satu kotak bisa diisi dengan ulat dengan total dua kilogram, dan polar sebanyak tiga kilogram.
Untuk memperlancar proses pemberian makanan, setiap kali kotoran sudah banyak bisa dilakukan pengayakan dan bisa diganti polarnya.
Setelah mengalami pertumbuhan kira-kira berumur 90 hari, ulat semakin membesar. Jika sudah dalam tahap pertumbuhan maksimal, ulat ini akan berdiam diri di dalam media kotak.
Sumber : Siti Asiyah, peternak ulat Hongkong

10 komentar:

  1. mz hub saya ke no ini 089678053210

    BalasHapus
  2. Menarik sekali cara budidaya ulat hongkong ini, makasih panduannya.

    BalasHapus
  3. maksih jika bias memberikan manfaat,.,.

    BalasHapus
  4. gan saya mau tanyak... untuk pemasaran ulathongkong ini saya bisa masarin ke siapa ???

    BalasHapus
  5. di kelurahan satriyan, kanigoro banyak mas/mbak

    BalasHapus
  6. saya orng satrean.. wah adatoh yg menulis tentng meal word di desaku..

    BalasHapus
  7. bukan yg menulis,.tpi yg banyak yg membudidayakan ulat ng Satriyan

    BalasHapus
  8. pak hub saya ya, saya di surabaya,082331199981 ,saya mau bnyak tanya

    BalasHapus
  9. Inilah ciri khas karakter wong blitar slalu kreatif...dlm sgala hal...mantap info yg brilian.. yg bisa buka celah usaha guna pemberdayaan karang karuna...bisa di contoh...salut mas bro, hari burger blitar

    BalasHapus