Sabtu, 30 Juni 2012

Kentrung, seni bertutur yang mulai terlupakan


Kentrung

Melihat pementasan seni tradisional Kentrung oleh Mbah Adam Sumeh (70), warga Desa Dayu, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, di Amphitheater Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Kota Blitar, Jumat (29/6) malam. Seni sastra lisan atau seni bertutur yang diiringi tabuhan terbangan dan kendang berbagai ukuran ini berasal Tuban. Yakni menyebar pada masa penyebaran agama Islam di Jawa, pada zaman Walisongo. Pemberian nama Kentrung sendiri berawal dari suara yang dihasilkan dari alat musik tradisional tersebut yang berbunyi "trung-trung".

Dalam pementasannya, seni bertutur Kentrung berisi tentang babat tanah Jawa, sejarah masa lalu pada masa kerajaan, terutama kerajaan Islam di tanah Jawa, serta kisah para nabi. Tentu saja, pada awal kemunculannya pada zaman Walisongo, keberadaan Kentrung sangat efektif dalam upaya penyebaran agama Islam. Karena kesenian itu merupakan perpaduan Islam dan Jawa, yang dibawa para pedagan Islam dari Arab yang berbaur dengan orang Jawa. Saat ini, seni Kentrung sudah mengalami modifikasi, awalnya hanya dimainkan oleh seorang saja yang memainkan terbangan dan bertutur, kini sudah ada yang mengiringinya. "Di Blitar tinggal satu kelompok ini yang tersisa," kata Imam Riyadi (40) dari Dewan Kesenian Kabupaten Blitar (DKKB).

Berawal dari Tuban, kini seni Kentrung telah menyebar ke berbagai daerah seperti Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga beberapa wilayah di Jawa Tengah. Dalam perjalanannya, di beberapa daerah seni Kentrung mulai tergerus zaman sehingga tinggal generasi sepuh saja yang melestarikan. Untuk itu sangat diperlukan peran generasi muda agar kesenian ini tidak punah dan hanya tercatat dalam lembaran sejarah.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar